Berikut cara membuat pola dasar pakaian atau baju wanita dewasa.Pakai wanita dewasa memiliki pola yang sederhana sebenarnya.Hanya saja tergantung model baju atau pakaian wanita yang bagaimana yang mau kita buat pola nya.Nah di sini kali ini saya akan KETERANGAN POLA BADAN BELAKANG: A - B = 1,5 - 2 cm B - C = Panjang punggung C - D
Mm 1 10 a b 2 cm 2 1 2 cm. Cara membuat blazer lengkap telah dikemas dalam 2 dua keping vcd plus buku petunjuknya mulai dari mengambil ukuran badan menggambar pola blazer memotong kain memapankan pola mengedit pola mengolah saku dan lapisan dalam mengolah krah lengan dan lainnya sampai menjadi blazer yang rapi dan mapan. Keterangan pola blazer.
MEMBUATPOLA BUSANA TINGKAT DASAR Busana mempunyai hubungan yang erat dengan manusia, karena menjadi salah satu kebutuhan utamanya. Sejak jaman dahulu, dalam kehidupan sehari - hari manusia tidak bisa dipisahkan dari pemkakaian busana. Di masa kini, pakaian tidak lagi sebagai penutup tubuh, melainkan dibuat dengan desain menarik yang
cash. Menggambar pola bisa dimulai dari pola belakang terlebih dahulu. Yukk, simak penjelasannya di bawah ini Gambar Pola dasar badan depan dan belakang A β B = Β½ ukuran lingkar β C = ΒΌ lingkar badan ditambah 1 β B1 = 1,5 β D = ukuran panjang punggung, buat garis horizontal ketitik β B2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 titik B1 dengan B2 seperti gambar leher belakang.C β C1 = 5 cm, hubungkan ke titik B2 dengan garis putus-putus garis bantu.B2 dipindahkan ukuran panjang bahu melalui garis bantu diberi nama titik B3B3 β B4 = 1 cm, samakan ukuran B2 ke B4 dan dihubungkan dengan garis β G = Β½ panjang punggung ditambah 1 cm, buat garis horizontal kekiri dan beri nama titik β G1 = 9 β F1 = Β½ lebar punggung buat garis batas lebar punggung.Bentuk garis lingkar kerung lengan belakang mulai dari titik B4 menuju F1 terus ke F seperti β D1 = ΒΌ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 cm besar lipit kup dikurang 1 β D2 = 1/10 lingkar β D3 = 3 cm besar lipit kup.Dari D2 dan D3 dibagi 2, dibuat garis putus-putus sampai kegaris badan G dan H diukur 3 cm kebawah, dihubungkan dengan titikD2 dan D3 menjadi lipit β D1 = ΒΌ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 dihubungkan dengan F, menjadi garis sisi badan bagian belakang. Keterangan Pola Bagian Depan A β A1 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 β A2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1,5 titik A1 dengan A2 seperti gambar garis leher pola muka.A1 β C2 = ukuran panjang β A3 = 5 β F2 = Β½ lebar titik C2 ke F2 terus ke F seperti gambar lingkar kerung lengan bagian muka.E β E1 = 2 cm sama besarnya dengan ukuran kup sisi.E1 β E4 = ΒΌ lingkar pinggang ditambah 4 cm 3 cm besar lipit kupdan 1 cm untuk membedakan pola muka dengan belakang.E1 β E2 = 1/10 lingkar β E3 = 3 cm besar lipit kup.E2 dan E3 dibagi dua dibuat garis putus-putus sampai ke garis tengah β J = ukuran tinggi J dibuat garis sampai ke β J2 = 2 cm, lalu dihubungkan dengan titik E2 dan E3 membentuk lipit β I = 9 cm, lalu dihubungkan dengan garis putus-putus ke titik β K = 2 I ke I1 dan I2 diukur masing-masing 1 cm, lalu hubungkan dengan titik β K = I2 β K, yang dijadikan patokan panjang adalah ukuran I1 ke dihubungkan dengan I2 dan titik I1 dengan F, menjadi garis sisi badan bagian muka. Gambar Pola lengan Ukuran pola lengan 1. Lingkar kerung lengan = 40 cm diukur dari pola badan 2. Tinggi puncak lengan = 12 cm 3. Panjang lengan = 24 cm Keterangan A β B = panjang β C = ukuran tinggi puncak lengan, buat garis sampai ke titik D dan E, setelah diukur dari titik A Β½ lingkar kerung lengan yang ukurannya bertemu dengan garis dari tititk garis putus-putus garis bantu dari A ke D dan dari A ke bantu dari A ke D dan A ke E dibagi tiga. 1/3 dari A ke D diberi titik A1 dan dari A ke E dinamakan titik β A4 = A2 β A3 = 1,5 D1 = 1/3 D β AD ke D1 dibagi dua dinamakan titik β D3 = 0,5 A dengan A4 dengan D1, D3 dan D seperti gambar lingkar kerung lengan bagian muka.Hubungkan A dengan A3 dan E seperti gambar lingkar kerung lengan bagian belakang.G β G1 = E1 β E2 = 1,5 E dengan E2 sisi lengan bagian belakang, dan D dengan G seperti gambar sisi lengan bagian muka Selamat mencoba β¦.
ο»Ώ58 dari pola badan bagian atas, dari bahu sampai pinggang biasa disebut pola dasar badan muka dan belakang. Pola lengan bagian atas atau bahu terendah sampai siku atau pergelangan tangan biasa disebut pola dasar lengan. b. Pembuatan Pola Dasar Sistem Praktis 1 Pola Sistem Praktis Pola sistem praktis untuk pola badan yang memiliki kup yang terletak dipinggang. Pola dasar badan digambar menjadi satu antara pola badan muka dan pola badan belakang. Widjiningsih,dkk, 199426 Menurut Urip Wahyuningsih dkk, 200511 Pola dasar sistem praktis merupakan pola badan pola badan bagian muka dan belakang dibuat terpisah. Berdasarkan penjelasan diatas terdapat perbedaan antara sistem pola praktis menurut Widjiningsih,dkk dan Urip Wahyuningsih,dkk perbedaannya terletak pada pembuatan pola badan bagian muka dan belakang digambar menjadi satu sedangkan menurut Urip Wahyuningsih pembuatan pola badan bagian muka dan belakang dibuat terpisah. Siswa pada umumnya lebih senang menggunakan pola dasar sistem praktis dalam pembuatan busana wanita karena jenis ukuran 59 yang dipakai lebih sedikit dibandingkan sistem pola lainnya dan teknik pembuatannya sederhana simple sehingga lebih efisien dan cepat dalam pengerjaanya. Ukuran yang digunakan pada pembuatan pola dasar badan sistem praktis yaitu Lingkar Leher Lingkar badan Lingkar pinggang Panjang Muka Lebar Muka Lebar punggung Panjang punggung Lebar bahu tinggi dada Di bawah ini merupakan cara membuat pola dasar dengan sistem praktis, misalnya dengan ukuran sebagai berikut a Lingkar leher = 35 cm b Lingkar badan = 84 cm c Lingkar pinggang = 64 cm d Panjang punggung = 36 cm e Lebar punggung = 32 cm f Panjang sisi = 17 cm g Lebar muka = 30 cm h Panjang muka = 31 cm i Tinggi dada = 17 cm j Panjang bahu = 11 cm 60 Gambar pola dasar badan sistem praktis skala 1 ΒΌ Gambar 24. Pola Dasar Badan Sistem Praktis Urip Wahyuningsih, 11 61 2 Langkah β langkah pembuatan pola dasar badan sistem praktis Keterangan pola dasar badan bagian depan a a β b = ΒΌ lingkar badan + 2 cm b a β c = 18 . Β½ lingkar badan + 2 cm c a β d = 18 . Β½ lingkar badan + 1 cm kemudian buat kerung lengan d c β e = panjang muka e b β bβ = 110 . Β½ lingkar badan f d β dβ = panjang bahu g d β h = dβ- h = Β½ lebar bahu h f β fβ =2 cm i e β eβ_ i β f = ΒΌ lingkar pinggang + 1 cm j fβ β y = panjang sisi Keterangan pola dasar badan bagian belakang a a β b = panjang punggung + 1 cm b b β bβ =1cm c a β c = b β d =14 lingkar badan β 1 cm d b β e = 18 . Β½ lingkar badan - 1 cm buat kerung lengan 62 e d β f = 110 . Β½ lingkar badan f e β eβ = panjang bahu g e β g = eβ- g = Β½ eeβ h a β aβ = 110 lingkar pinggang - 1cm i aβ β h = 3 cm j a β aβ + h β h = ΒΌ lingkar pinggang β 1 cm k a β i = c β cβ = panjang sisi buat kupnat l bβ β yβ = i β y = Β½ bβt m y β kβ = Β½ lebar punggung, buat kerung lengan B. KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN Penelitian yang dilakukan oleh Sulistyoningrum 2005 yang berjudul Identifikasi Hambatan Siswa Mempelajari Mata Diklat Membuat Pola Busana Sesuai Konstruksi dan Model Di Kelas I SMKN 6 Yogyakarta. hasil penelitian menunjukkan bahwa Diketahui bahwa tingkat kategori hambatan belajar siswa dalam mempelajari mata diklat membuat pola busana sesuai konstruksi dan model secara keseluruhan baik dari segi internal maupun eksternal berada pada kategori sedang dengan persentase 83,3. Teridentifikasi hambatan belajar yang berasal dari internal siswa yaitu siswa sering mengalami kelelahan, sebagian besar siswa tidak dibekali dengan bakat di bidang busana, siswa sungkan bertanya kepada guru jika menumui kesulitan, kurangnya inisiativ untuk mencari informasi di bidang busana, 63 motifisi yang kurang. Teridentifikasi hambatan belajar yang berasal dari eksternal siswa yaitu ruang kelas sempit, meja belajar kecil, modul tidak lengkap, minimnya media pengajaran, tim pengajar sering kali memberikan tugas dengan metode penyelesaian yang berbeda. Diketahui bahwa tingkat kategori hambatan belajar siswa dalam mempelajari kompetensi secara keseluruhan pada mata diklat membuat pola busana sesuai konstruksi dan model berada pada tingkat sedang dengan persentase 42,4. Hambatan belajar yang menurut siswa dirasa paling ,menghambat dalam kegiatan belajar adalah ha,mbatan yang berasal dari factor internal yaitu aspek kesehatan siswa dengan persentase sebesar 76. Hal ini dapat dilihat dari semangat belajar dan kemampuan berkonsentrasi yang menurun pada akhir jam mata diklat, disebabkan karena jam belajar yang panjang dan metode belajar yang kurang bervariasi . hambatan belajar yang menurut siswa paling banyak ditemui dalam mempelajari mata diklat membuat pola busana sesuai dengan konstruksi dan model terdapat pada sub kompetensi pecah pola dengan persentase kategori 30 menyetakan sangat tinggi, 30 menyatakan tinggi, dan 40 menyatakan sedang. Penelitian yang dilakukan oleh Sumiyati 2005 Kesulitan Praktik Menjahit II Siswa kelas II Program Keahlian Tata Busana di SMK N 2 Godean Tahun Pelajaran 2004 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesulitan belajar praktik menjahit II ditinjau dari faktor pemahaman 64 siswa pada materi pelajaran termasuk pada kategori sulit dengan rerata 38,46. Kesulitan tersebut pada materi pelajaran pembuatan pola, pecah model dan pembuatan disain sketsa. Tingkat kesulitan belajar ini ditinjau dari faktor minat siswa tergolong sulit dengan rerata 37,79. Tingkat kesulitan belajar ditinjau dari factor perhatian orang tua tergolong sulit dengan rerata 17,70. Tingkat kesulitan belajar ditinjau dari factor peralatan yang ada di sekolah tergolong cukup sulit karena peralatan praktik menjahit tidak dapat digunakan secara keseluruhan, sedang peralatan praktik yang dimiliki siswa di rumah tergolong memadai sebanyak 91,25 dan sebanyak 8,75 memiliki peralatan praktik menjahit cukup memadai. Tingkat kesulitan belajar praktik menjahit II di SMK N 2 Godean Tahun Ajaran 2004 2005 pada kategori sulit dengan rerata 118,51 Dari berbagai penelitian di atas rata-rata meneliti tentang tingkat kesulitan belajar ditinjau dari berbagai factor, dan belum ada yang meneliti tentang identifikasi tingkat kesulitan belajar siswa pada proses pembuatannya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam lagi tentang adanya kesulitan-kesulitan pada tahap proses pembuatan blus dari tahap proses yang meliputi Proses pembuatan disain, Mengambil ukuran untuk membuat pola dasar, Pengambilan ukuran untk membuat pola blus, Pembuatan pola dasar dengan skala 14, Mengubahmembuat pola blus sesuai disain dengan skala 14, Merancang bahan secara rinci dan global, Membuat 65 pola dasar ukuran sebenarnya, Membuat pola blus sesuai disain dengan ukuran sebenarnya. Tahap Proses meliputi Memeriksa pola, Menyiapkan tempat alat dan bahan untuk memotong dengan memperhatikan K3, Memotong bahan dengan memperhatikan K3, Memindahkan tanda-tanda pola, Melakukan pengepresan dengan memperhatikan K3, Menjahit bagian- bagian busana sesuai disain dengan memperhatikan K3, Menyelesaikan busana wanita dengan jahitan tangan dan Penghitungan Harga Jual. C. KERANGKA BERFIKIR Kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam belajar merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menghalang-halangi atau memperlambat seorang siswa dalam mempelajari, memahami serta menguasai sesuatu. Adanya kesulitan belajar akan menimbulkan suatu keadaan dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya sehingga memiliki prestasi belajar yang rendah. Kesulitan belajar dapat ditandai dengan nilai rata-rata siswa rendah, nilai rata- rata siswa yang rendah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal maupun faktor eksternal. Kesulitan belajar dari faktor internal antara lain kesehatan yang kurang baik, bakat yang tidak sesuai dengan apa yang dipelajari, tidak memiliki minat yang kuat, motivasi yang kurang serta emosi yang labil sehingga tidak siap dalam menerima pelajaran. Sedangkan faktor eksternal antara lain fasilitas belajar yang kurang memadai, teman sebaya
Bagaimana cara menggambar Pola Dasar Baju Wanita dengan sederhana ? Bagi para pemula yang ingin belajar untuk menjahit baju sendiri dan tidak punya waktu untuk mengikuti kursus menjahit, maka berikut ini adalah langkah-langkah untuk menggambar pola dasar baju wanita secara sederhana. Contoh Ukuran Lingkar Leher = 46 cm, Panjang Sisi = 17 cm Linkar Badan = 102cm, Panjang Bahu = 12 cm Lingkar Pinggang = 88 cm, Lebar Punggung = 42 cm Panjang Muka = 40 cm, Panjang Punggung = 38 cm Lebar Muka = 41 cm, Jarak Dada = 17 cm Tinggi Dada = 15 cm, Keterangan Pola Badan Muka A β B = 1/6 Lingkar Leher + 2 cm B β C = Panjang Muka C β D = A β E = 1/4 Lingkar Badan + 1cm A β A1 = 1/6 Lingkar leher + 0,5cm A1 β A2 = Panjang Bahu A2 β A3 = turun 4cm B β B1 = 5cm B1 β B2 = 1/2 Lebar Muka C β C1 = 1/4 Lingkar Pinggang + 1 + 3cm C β C2 = 1/10 Ligkar Pinggang + 1cm C2 β C3 = 3cm C1 β C4 = naik 1,5cm C4 β K = Panjang Sisi C β M = Tinggi Dada M β O = 1/2 Jarak Dada Keterangan Pola Badan Belakang A β B = β 2cm B β C = Panjang Punggung C β D = A β E = 1/4 Lingkar Badan β 1cm A β A1 = 1/6 Lingkar Leher + 0,5 cm A1 β A2 = Panjang Bahu A2 β A3 = Turun 3cm B β B1 = 10 cm B1 β B2 = 1/2 Lebar Punggung C β C1 = 1/4 Lingkar Pinggang β 1cm + 3cm C β C2 = 1/10 Lingkar Pinggang C2 β C3 = 3 cm C1 β K = Panjang Sisi Tips bagi pemula yang masih kesulitan untuk cara membuat pola dasar wanita di atas, maka bisa dengan menggunakan baju yang sudah tidak terpakai tapi masih pas di silet dan bukalah jahitannya, namun jangan semuanya melainkan hanya separuh saja, separuh bagian muka dan separuh bagian belakang, satu lengan dan kerah. Biarkan separuh bagian lainnya tetap terjahit, gunanya untuk referensi pada saat menjahit pakaian yang baru. Jika sudah mengetahui bagaimana membuat pola dasar baju wanita, selebihnya tinggal bagaimana mengembangkan pola dasar baju wanita ini menjadi kian cantik dengan bermacam-macam model busana. Contoh Ukuran Keterangan Pola Badan Muka Keterangan Pola Badan Belakang
cara membuat pola dasar badan